Memperingati Hari Kartini dan Melestarikan Budaya

IMG_4700IMG_4692
Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 10 Yogyakarta kali ini mungkin berbeda dengan yang di lakukan di sekolah-sekolah lain. Pada umumnya, peringatan hari Kartini ditandai dengan upacara bendera dan pada hari itu seluruh siswa maupun guru mengenakan busana tradisional. Namun untuk tahun ini SMP Negeri 10 Yogyakarta mengadakan peringatan hari Kartini dengan berbagai lomba. Lomba-lomba tersebut diikuti oleh siswa kelas VII dan kelas VIII. Kelas IX tidak ikut karena sedang melaksanakan pendalaman materi untuk persiapan ujian nasional yang sebentar lagi akan tiba.

Yang menarik dari berbagai lomba yang diadakan, semuanya berkaitan dengan budaya tradisional masyarakat. Lomba tersebut adalah membuat nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya, membuat minuman kunir asem, dan lomba vokal grup. Memang, salah satu tujuan diadakannya lomba-lomba itu adalah untuk melestarikan budaya tradisional.

Nasi tumpeng kuning merupakan hasil budaya yang sering kita jumpai di Jawa dan di daerah lain. Nasi tumpeng itu dibuat dari beras dicampur santan dari kelapa dan diberi pewarna kuning dari perasan kunyit. Sebagian tumpeng berbentuk kerucut yang mengandung makna ‘mengarah kepada Tuhan Yang Maha Esa’. Hal itu sebagai pusat dari ungkapan syukur. Oleh sebab itu tumpeng yang digunakan untuk acara tasyakuran, cenderung berbentuk kerucut menyerupai puncak gunung. Tumpeng ini biasanya dilengkapi dengan berbagai lauk pauk, misalnya abon, kering tempe atau kentang, sambel goreng krecek, irisan telur dadar, perkedel, ayam goreng, dan dihias dengan sayuran misalnya tomat, timun, cabai merah, dan selada air. Nasi tumpeng dan pelengkapnya ini disajikan di atas tampah atau tambir yang dialasi dan dihias dengan daun pisang.

Kunir asem atau kunyit asam merupakan minuman tradisional yang termasuk jamu. Minuman segar yang dibuat dari kunyit, asam, dan gula jawa itu memiliki banyak manfaat, antara lain  dapat menjaga kesegaran badan dan dapat meringankan sakit perut terutama sakit perut menjelang menstruasi pada wanita. Wanita-wanita Jawa di pedesaan biasanya menjadikan kunir asem ini sebagai minuman sehari-hari.

Untuk lomba vokal grup, setiap kelas diwakili satu kelompok yang terdiri atas lima siswa. Mereka menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini dan lagu daerah bebas. Lagu daerah yang dinyanyikan oleh para peserta antara lain gambang suling, numpak prau layar, ampar-ampar pisang, apuse, dan ilir-ilir.

Berbagai lomba dalam peringatan hari Kartini di SMP Negeri 10 Yogyakarta ini patut diberi apresiasi. Dengan lomba ini siswa mengenal makanan dan minuman tradisional serta lagu daerah dengan harapan mereka terinspirasi untuk ikut melestarikannya. (Y. Niken Sasanti)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s